5 Syarat Utama Terwujudnya “Indonesia Incorporated”

Surakarta – Konsep “Indonesia Raya Incorporated” yang dalam beberapa tahun ini terus didengungkan bisa saja terwujud. Namun, setidaknya ada 5 syarat utama agar konsep itu bisa berjalan dengan baik. Pandangan itu disampaikan pengamat ekonomi dari Fakultas Pertanian Universitas 11 Maret Surakarta (UNS) Jawa Tengah, Darsono, dalam focus group discussion (FGD) bertema “Indonesia Raya Incorporated, Alat Strategis Pemersatu Bangsa” yang digelar di Hotel Aston Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (21/12). Acara itu digelar Gerakan Ekayastra Unmada, Semangat Satu Bangsa. Selain Darsono, FGD diikuti pula Ketua Gerakan Ekayastra Unmada AM Putut Prabantoro, Agus Trihatmoko (Universitas Surakarta), Benaulus Saragih (Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur), Mudrajat Kuncoro (Universitas Gadjah Mada/UGM Yogyakarta), Djoko Mursinto (Universitas Airlangga Surabaya), Syamsudin (Universitas Muhammadiyah Surakarta), Sari Wahyuni (Universitas Indonesia), Winata Wira (Universitas Maritim Haji Raja Ali, Kepulauan Riau), Dorothea Wahyu Ariani (Universitas Kristen Maranatha Bandung), dan Munawar Ismail (Universitas Brawijaya), dan HB Isyandi (Universitas Riau). Lima syarat agar rancang bangun Indonesia Raya Incorporated bisa terwujud yang dimaksud Darsono adalah pemerintahan yang kuat, BUMN yang sehat, masyarakat yang berdaya, pranata masyarakat yang berdaulat, dan terjaganya keberlangsungan diskusi tentang hal tersebut. Untuk mewujudkan lima syarat itu tidak mudah. Darsono memetakan ada tiga kesadaran sebagai anak bangsa yang harus diwujudkan terlebih dulu. Pertama, harus ada kesepakatan bersama yang kuat tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedua, implementasi dari tantangan bersama itu yang belum terlaksana dengan baik. Terakhir, bentuk dari Indonesia Incorporated itu belum disepakati bersama. Dalam konteks ini, Darsono melihat bahwa keberadaan koperasi sebagai penggerak perekonomian bangsa masih diabaikan. Dikatakan, Indonesia Incorporated itu harus segera diwujudkan. Sebab, saat ini Indonesia telah menjadi radar investasi baru negara-negara di dunia. Jika tidak diwujudkan, Indonesia ke depan hanya menjadi negara konsumen. “Contoh tantangan ke depan adalah pemanfaatan industri teknologi informasi yang belum sepenuhnya memberikan nilai tambah ekonomi bagi rakyat Indonesia. Kita hanya sebagai pemakai,” katanya. Hal lain yang disoroti Darsono adalah sektor pertanian yang sebenarnya berpotensi untuk menjadi salah penopang pertumbuhan ekonomi, namun saat ini terkesan menjadi beban. “Peranan di sektor pertanian masih dipandang pasif. Bahkan, kerap kali sektor pertanian ini hanya sebagai komoditas politik,” katanya. Kebijakan pemerintah yang telah mengucurkan dana desa, bahkan angkanya akan terus membesar, dinilai Darsono bisa menjadi modal untuk menjawab tantangan-tantangan itu. Bahkan, dana desa itu bisa mengurangi arus urbanisasi yang masih besar hingga kini. “Urbanisasi itu khan intinya mencari kehidupan yang lebih baik. Kalau kehidupan di desa sudah baik, untuk apa pindah ke kota. Jadi, dana desa bisa menahan laju urbanisasi, tetapi dengan syarat dana itu digunakan untuk hal-hal yang produktif, bukan konsumtif,” katanya. Asni Ovier/AO BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu