Pembangkit Listrik Asal Tiongkok Sering Rusak

Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah – ‎PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) meningkatkan keandalan pembangkit listrik batu bara yang masuk dalam program percepatan (fast track programme /FTP) tahap pertama. PJB terus berupaya memaksimalkan pembangkit yang didatangkan dari Tiongkok. PJB merupakan anak usaha PT PLN (persero) yang mendapatkan mandat mengoperasikan dan memelihara pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Direktur Utama PJB Iwan Agung mengatakan pihaknya mendapat tugas untuk mengoperasikan dan memelihara pembangkit batu bara di Sumatera dan Jawa. Kini tugas itu pun diberikan ke pembangkit FTP satu di wilayah Kalimantan yang siap beroperasi. Salah satunya PLTU Pulang Pisau yang terletak di Desa Buntoi, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. “Kami sudah memiliki pengalaman. Kami akan tingkatkan keandalan pembangkit dari Tiongkok ini dari 50 persen menjadi 70-80 persen dalam dua tahun,” kata Iwan di Kuala Kapuas, Rabu (21/12). Iwan membeberkan pembangkit listrik asal Tiongkok memiliki karakteristik yang hampir sama. Hal ini berdasarkan pengalaman mengelola pembangkit serupa di Sumatera dan Jawa. Dia mencontohkan minimnya petunjuk manual pengoperasian serta tidak menggunakan bahasa internasional. Belum lagi rendahnya transfer pengetahuan dari kontraktor Tiongkok mengenai teknologi pembangkit pada pembangkit itu. Semua keterbatasan itu menjadi tantangan tersendiri dalam mengelola dan mengoperasikan pembangkit listrik. “Kami buat petunjuk operasi sendiri berdasarkan pengalaman yang ada,” ujarnya. Pembangkit listrik FTP pada umumnya berasal dari Tiongkok yang relatif murah. Dia menyebut produk asal Negeri Tirai Bambu itu dibanderol US$ 1,1 juta per megawatt (MW). Sedangkan produk lainnya berkisar antara US$ 1,8-2 juta per MW. Dikatakannya kualitas beberapa produk pun kurang mumpuni seperti boiler , kondensor belt conveyor maupun crusher batu bara. Dia membeberkan masalah pada boiler yakni pelapis pada dinding yang pecah lantaran tak mampu menahan uap panas. Kondensor mengalami kebocoran bila unit pembangkit berhenti operasi (shut down) . Kemudian belt conveyor dan crusher sering macet yang mengganggu distribusi batu bara. “Banyak masalah dari hulu sampai hilir. Mulai dari batu bara sampai unit pembangkit,” ujarnya. Rangga Prakoso/FMB BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu