Sosiolog: Perilaku Dimas Kanjeng Bagian dari Fenomena Ketimpangan Sosial

Jakarta – Munculnya pemilik Pemodokan Dimas Kanjeng, Taat Pribadi yang dapat menggandakan uang dengan syarat pengikutnya menyerahkan mahar sejumlah uang jutaan rupiah merupakan perilaku irasional. Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Sigit Rochadi mengatakan, tindakan yang meresahkan masyarakat merupakan bagian dari ketimpangan sosial yang menyebabkan munculnya perilaku irasional. Dijelaskan Sigit, perilaku irasional muncul pada masyarakat yang mengalami perubahan sosial cepat dan mencakup banyak aspek. Salah satunya perubahan sosial politik yang berlangsung sekitar 20 tahun terakhir mencakup berbagai aspek yang menimbulkan ketimpangan sosial yang tajam. “Mereka yang tertinggal berusaha mengejar dengan menggunakan cara-cara irasional untuk segera menikmati hasilnya. Keterbukaan masyarakat dengan demokrasi telah mendorong kompetisi terbuka di segala bidang terutama dalam mendapatkan status, kekuasaan dan kekayaan,” kata Sigit kepada Suara Pembaruan, Kamis, (29/8) Petang. Menurut Sigit, terjadinya hal ini karena perubahan sosial budaya yang sangat pesat direspon oleh masyarakat dengan cara yang beraneka ragam. Ada respon positif dengan belajar dan meraih prestasi untuk bisa mengikuti perubahan, tetapi ada pula yang mencari jalan lain dengan kembali ke metafisika atau memadukan kemampuan rasio dan gaib. Dikatakan Sigit, kelompok metafisika menempuh jalan pintas dengan cara yang sulit dipahami nalar dalam mencapai tujuannya. Mereka melakukan berbagai ritual yang sulit diterima akal sehat, tetapi mereka percaya bahwa itu adalah proses dalam mencapai tujuan. “Sesaji, persembahan, seks dan sebagainya yang oleh orang lain dipahami sebagai perilaku menyimpang, bagi kelompok itu dipahami sebagai kewajiban yang harus dipenuhi. Di sini tidak ada perilaku menyimpang bagi kelompok itu karena sejak awal mereka sadar bahwa cara yang mereka tempuh berbeda dengan kebanyakan orang,” jelasnya. Lebih lanjut Sigit juga mengatakan, motivasi utama dari kelompok metafisika ini untuk memperoleh materi. Mereka memaknai tujuan hidup sebagai pemenuhan materi. Mereka mempertaruhkan berbagai hal seperti uang, harta benda, keluarga, waktu untuk secara cepat melipatgandakan materi yang mereka miliki dalam waktu singkat. Menurut Sigit, hal ini terjadi karena kompetisi dalam hidup ini dan mereka ingin memenangkan kompetisi dengan cara yang non rasional. Mereka ingin dikenal sebagai orang yang berhasil secara materi, status dan popularitas. Jadi tindakan yang non rasional dilakukan dalam rangka mengejarketercapain tiga hal tersebut. Sigit menyebutkan, tindakan ini, dilakukan banyak orang, apalagi mereka yang sedang naik daun. Dalam rangka mempertahankan statusnya itu, mereka rela melakukan apapun. “Ingat pesta seks yang rela dilakukan oleh artis ternama, padahal berasal dari keluarga terpandang demi mempertahankan status dan meraih popularitas. Termasuk juga mereka yang ingin naik pangkat, naik jabatan dengan menggunakan cara-cara non rasional,” tegasnya. Menurut Sigit, ada yang keliru dalam pendidikan, di mana pembangunan dimaknai sebagai penambahan materi dan sarana. Orang secara sadar atau tidak terus menerus mengejar materi dan penambahan sarana seperti rumah, motor, mobil, apartemen, tetapi kurang membekali karakter dan akhlak. Maria Fatima Bona/GOR Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu