Isu Rush Money Tidak Laku di Yogyakarta

Yogyakarta – Isu rush money atau penarikan uang besar-besaran yang digulirkan sejumlah pihak melalui media sosial, tidak berpengaruh pada stabilitas perbankan di DI Yogyakarta. Menurut Kepala Perwakilan BI DIY, Hilman Tisnawan, kondisi perekonomian dan keuangan maupun perbankan di DIY dan nasional dalam keadaan bagus dan terkendali sehingga masyarakat tidak perlu berpikir berlebihan terhadap isu tersebut. “Tidak ada hubungannya antara isu-isu rush money dengan melemahnya rupiah. Karena faktor itu lebih dipengaruhi kondisi global,” ujarnya Rabu (23/11). Hilman menegaskan, semuanya masih on the track. Meskipun pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan III 2016 sedikit rendah, hal itu bukan karena pengaruh isu, tetapi lebih kepada penundaan sementara dan pengetatan APBN maupun APBD. Bahkan menurutnya, perkembangan pertumbuhan ekonomi dan pergerakan dana keuanggan berjalan dengan baik, termasuk pertumbuhan ekonomi dan keuangan di DIY, bahkan investasi yang masih masuk ke DIY tetap berjalan, kredit perbankan tumbuh, sektor swasta juga bergerak, dan dana pihak ketiga (DPK) tetap tumbuh. Karena itu ujarnya, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan, mengingat peralihan aliran modal yang masuk ke Indonesia masih positif, dengan aliran modal yang keluar lebih kecil daripada yang masuk. Sementara itu, pengamat ekonomi Edy Suwandi Hamid juga menegaskan, isu rush money, sengaja dilontarkan oleh segelintir orang untuk keperluan pribadi dengan memanfaatkan keresahan masyarakat. Menurutnya, tidak akan ada rush money secara fundamental Indonesia. Sebab, perbankan sangat kuat, bahkan dalam dua tahun terakhir, nilai rupiah terhadap dolar Amerika stabil. Mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini menegaskan, justru yang membuat benang kusut adalah pernyataan aparat kepolisian yang akan menangkap akun penyebar rush money. Menurutnya, kalau polisi sudah mengetahui identitas penyebar berita hoax dan penyebar hasutan, tidak usah berwacana, tetapi tangkap dan adili pembuat keonaran tersebut. Menurutnya, hembusan isu penarikan uang besar-besaran itu, erat kaitannya suhu politik yang memanas selama Pilkada, khususnya di DKI Jakarta. Dengan demikian, Edy yakin kalau masyarakat Indonesia sudah dewasa dalam menyikapi isu-isu politik. “Kondisinya sudah berbeda. Kalau rush money ini dihembuskan di tahun 90-an, mungkin bisa terjadi kolaps. Tetapi sekarang tidak. Masyarakat Indonesia, sudah punya pengalamam, jadi menyikapi isu ini dengan tenang dan justru tidak terpengaruh,” tegasnya. Namun Edy meminta, seperti halnya Polisi menangani kasus Ahok dan lainnya, penyebar isu rush money ini segera ditangkap, karena jelas-jelas telah melakukan tindakan provokasi yang tujuannya menciptakan kepanikan massa. Fuska Sani Evani/FMB Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu